Oleh : Haidar Nashir*
Musuh terbesar manusia adalah diri sendiri. Diri yang mengandung dan membesarkan ego, yang daya dorongnya dahsyat laksana magma memicu letusan gunung berapi. Diri yang sering kali menjelma menjadi musuh sesama, bahkan berseteru dengan akal budinya yang otentik. Diri yang terjebak dalam ta’bid ’an al-nafs, menjadikan tubuh dan jiwanya sebagai budak pesona dunia.
Sejarah manusia sesungguhnya dimulai dari pertarungan hidup menaklukkan segala hasrat dan kepentingan diri di tengah relasi orang lain dan lingkungannya. Dalam bahasa kaum Freudian, konflik antara hasrat gratifikasi ego diri dan tertib sosial. Apakah dia menjadi pemenang seperti Habil atau pecundang pada diri Kabil? Kedua putra Adam Alaihi Salam itu memberi pelajaran awal tentang sejarah perang melawan diri dan sesama.
Pada titik dialektik antara hasrat dan kendali diri itulah sesungguhnya Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar melalui peristiwa kurban pada Idul Adha mengajarkan mosaik rohaniah yang berharga. Bahwa setiap insan beriman akan naik tangga ke puncak keutamaan tertinggi jika sukses menaklukkan dirinya demi sesuatu yang lebih luhur dan hakiki.
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 September 2016
Selasa, 19 Juli 2016
Sumber Dosa
Iu Rusliana
Sungguh sangat mudah menilai orang lain, namun untuk
jujur tentang diri sendiri, sukar rasanya. Benteng penghalang bernama
keangkuhan terlalu kokoh untuk dirobohkan. Rendah hati mengakui kekurangan dan
kesalahan langka ditemukan. Begitulah
sifat umum sebagian dari kita, karena kebeningan jiwa dan tekad untuk terus
memperbaiki diri tidak menyertai. Iri, dengki dan segenap penyakit hati kerap menguasai,
padahal itu sumber segala dosa.
Rasulullah Saw pun mengingatkan: “Tiga hal yang
merupakan sumber segala dosa, hindarilah dan berhati-hatilah terhadap
ketiganya. Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan membuat Iblis
enggan bersujud kepada Adam, dan hati-hatilah terhadap tamak (rakus), karena
ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan berhati-hatilah terhadap
iri hati, karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya
membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati,” (HR. Ibn Asakir melalui Ibn
Mas’ud).
Kamis, 14 Juli 2016
Kualitas Diri
Oleh : Iu Rusliana
Kualitas dan
kemuliaan manusia ditentukan oleh pikiran, ucapan dan tindakannya. Mengembangkan
ilmu pengetahuan dan berpikir tentang sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat.
Bertutur dengan penuh kesantunan, terjaga lisan dan jauh dari melukai perasaan.
Bertindak memuliakan dirinya, bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.
Kualitas
diri juga ditentukan oleh kesungguhan dan tidak menyepelekan sesuatu. Boleh
jadi urusan itu kecil bagi kita, tapi besar bagi orang lain. Perlakukan sama
segala urusan agar hasilnya optimal. “Dan
kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah
besar,” (QS An-Nur ayat 15).
Selanjutnya,
bersegeralah mengerjakan sesuatu, agar tugas lain dapat dikerjakan dengan
sebaik mungkin. Menumpuknya hanya membuat malas dan pekerjaan semakin berat.
“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh urusan yang lain,” (QS Al Insyirah:7).
Langganan:
Postingan (Atom)